Text
Aksisitensi Kearifan Lokal di Era Globalilasi (Tantangan dan Solusi)
Hasil penelitian ini terungkap bahwa terjadi dua periodisasi penghijrahan suku Bugis, pertama, penghijrahan suku Bugis pada pertengahan abad ke XVII. karena adanya faktor pendorong, suku Bugis berprinsip bahwa nasib mereka akan menjadi lebih baik jika bermigrasi, di samping itu situasi politik internal di wilayah Sulawesi Selatan yang tidak stabil, di kalangan bangsawan Bugis sendiri sering terjadi sengketa karena masing-masing menganggap lebih berhak mewarisi kerajaan dan bahkan terjadi perang antar daerah, kedua, penghijrahan dan kedatangan sekaligus mendirikan Kerajaan Pagatan yakni suku Bugis Wajo. Pasca ditandatangani perjanjian Bongaya 18 November 1667 menyebabkan ketidaknyaman penduduk tinggal di Sulawesi Selatan dan adanya falsafah hidup mereka bahwa maradeka to Wajoe'e, penghijrahanpun berlanjut sampai abad ke XVIII. Pelaksanaan ritual mappanretasi terdapat tiga versi, pertama, versi Muhammad Shaleh dimulai pada tahun 1850: kedua, versi Syarifuddin R dimulai pada tahun 1901 diprakarsai Kepala Toa La Muhamma dan mendapat dukungan Raja Arung Abdurrahman Andi Sallo 1893-1908, ketiga, versi Andi Satri Jaya dimulai akhir abad ke XIX dan awal abad ke XX. Mappanretasi mengandung makna memberi makan di laut atau sebuah aktivitas ritual yang dilakukan turun ke laut dengan membawa sajian untuk dimakan bersama sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt, atas rezeki yang diperoleh dari hasil tangkapan ikan. tata cara/tahapan-tahapan dalam pelaksanan ritual mappanretasi, pertama, pembentukan panitia pelaksana, kedua, persiapan sajian oleh sandro/imamnya, ketiga, prosesi acara pucak ritual mapanretasi, keempat, prosesi dipanggung adat sebelum turun ke laut. Realitas bentuk akulturasi dilihat dari tiga Sisi, pertama, tujuan pelaksanaan ritual mappanretasi:, kedua, penggunaan simbol dalam ritual mappanretasi, ketiga, ritual mappanretasi sebagai wadah menjalin Silaturrahim.
No other version available